JAYAPURA, suluhtimur.com — Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan bergerak cepat meringankan beban masyarakat Distrik Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya, yang tengah didera bencana kekeringan dan fenomena hujan es selama beberapa bulan terakhir dengan menyalurkan bantuan pangan lokal, Jumat (11/9/2026).
Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Kepala Dinas Sosial Provinsi Papua Pegunungan, Yanius Telenggen, mewakili Gubernur Papua Pegunungan. Logistik pangan yang didistribusikan mencakup pasokan sayur-mayur, aneka umbi-umbian, susu formula, serta sejumlah perlengkapan pokok lainnya untuk menopang kebutuhan warga terdampak.
Yanius Telenggen menjelaskan bahwa krisis kekeringan telah melanda lembah Kuyawage sejak Agustus 2026 dan melumpuhkan ketahanan pangan masyarakat setempat karena tanaman pokok gagal panen.
“Semua pohon dan tanaman yang ada di lembah Kuyawage ini kering. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan,” ujar Telenggen membeberkan situasi di lapangan.
Bencana serupa dilaporkan tidak hanya memukul Kuyawage, melainkan turut meluas ke wilayah lain, seperti Distrik Goa Baliem, Distrik Wano Barat, serta beberapa distrik di wilayah Kabupaten Nduga. Guna menjangkau titik-titik krisis, Pemprov Papua Pegunungan menembus jalur darat hingga ke kawasan ujung jalan Kuyawage.

Telenggen mengimbau warga agar menerima uluran tangan ini sebagai wujud kepedulian nyata pemerintah daerah di tengah masa sulit.
“Jangan dilihat dari jumlah bantuan, berapa banyak yang dibawa. Bantuan ini merupakan bentuk perhatian Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan kepada masyarakat yang mengalami bencana kekeringan akibat kondisi cuaca yang terjadi,” tegasnya.
Harapan Akses Jalan dan Krisis Pangan
Di sela penyerahan bantuan, momen haru terlihat saat sejumlah anak dengan pakaian dan wajah berlumur lumpur mendatangi lokasi pembagian demi mendapatkan makanan.
“Kami datang karena kami lapar. Kami dengar pemerintah ada datang, makanya kami ke sini,” tutur salah seorang anak dengan nada lirih.
Selain persoalan kelaparan, kaum ibu yang membawa hasil kebun yang telah layu dan mengering turut menyuarakan aspirasi mendesak terkait keterisolasian wilayah. Mereka memohon dibukanya akses jalan darat permanen yang menghubungkan Kuyawage ke ibu kota Lanny Jaya hingga ke pusat provinsi, agar hasil pertanian dapat dipasarkan ke kota.
“Kami hanya mau pemerintah membuka jalan supaya kami bisa menjual hasil kebun ke kota. Selama ini kami jalan kaki jauh sekali. Kaki kami sudah tua,” rintih seorang warga.
Soroti Mandeknya Pendidikan Anak
Persoalan lain yang mencuat di Distrik Kuyawage adalah terhentinya proses belajar mengajar. Seorang anak perempuan di lokasi mengeluhkan ketiadaan guru yang mengajar selama berbulan-bulan, sehingga anak-anak usia sekolah terpaksa telantar pendidikannya.
Merespons jeritan generasi muda tersebut, Yanius Telenggen meminta Pemerintah Kabupaten Lanny Jaya tidak tinggal diam dan segera memulihkan aktivitas sekolah di tengah situasi bencana.
“Kepada Pemerintah Lanny Jaya, kami mohon agar sekolah-sekolah di Kuyawage terus beroperasi. Tugaskan guru-guru untuk tetap mengajar, karena anak-anak ini adalah generasi ke depan. Kami mohon semua ini diperhatikan,” tandas Telenggen. SLHT-NY/OB


















